Sultan Selacau Rohidin

Jejak Tasela - Berita tentang kerajaan dan/atau yang mendeklarasikan dirinya adalah raja disertai pengkalaiman memiliki banyak prajurit menjadi isu sentris akhir-akhir ini. Malah sampai di running di banyak statsiun televisi nasional. Santernya isu tersebut diawali dengan menculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang berujung ditangkapnya sang raja dan ratu lantaran melakukan pembohongan dengan meminta sejumlah uang kepada para prajuritnya jika ingin menempati tahta tertentu.

Isu tentang kerajaan itu pun perlahan menyasar ke Kab. Tasikmalaya. Ya, seperti diketahui bahwa di Kab. Tasikmalaya ada semacam kesultanan. Namanya Kesuktanan Selacau atau  Selaco International Federational yang terletak di Kec. Parungponteng.

Mengomentari ramainya berita tentang kerajaan, Rohidin, selaku Sultan Selacau agkat bicara. Blak-blakannya dia guna menepis stigma negatif yang ditujukan sejumlah pihak kepadanya.

"Selaco international Federation jelas berbeda dengan Keraton Agung Segajat dan Sunda Empire. Keberadaan dan kegiatan Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu yang berdiri sejak 2004 ini nyatanya bisa berdampingan dengan masyarakat. Malahan, kami membuka diri selama ini kepada khalayak. Tak terkecuali kepada teman-teman awak media," kata Rohidin di sela silaturahmi dengan seluruh jajaran kesultanan dan para tokoh masyarakat, Kamis (23/1/2020) pagi.

Sultan Selacau Rohidin yang bergelar Sultan Patra Kusumah VIII mengklaim telah mendapatkan legalitas fakta sejarah yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2018 sebagai putusan warisan kultur budaya peninggalan sejarah Kerajaan Padjadjaran di masa kepemimpinan Raja Surawisesa. Adapun dirinya, aku Rohidin, merupakan keturunan ke-9 Raja Surawisesa.

"NKRI tetap menjadi harga mati. Apa yang saya lakukan sampai hari ini hanya sekedar aplikasi nyata dalam upaya melestarikan warisan budaya leluhur kami. Badan hukumnya berbentuk yayasan dengan penguasaan teritorial wilayah Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Pangandaran bagian selatan," sebut dia.

Berbeda yang dilakukan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire yang memungut kepada prajuritnya, ikhwal sumber keuangan Kesultanan Selacau justru mampu mensejahterakan orang-orang di bawahnya termasuk para pejabat kesultanan plus pembangunan area kesultanan . Itu karena

Kesultanan Selaco memiliki sumber pendanaan sendiri yang berasal dari Sertifikat Phoenix melalui seorang grantor bernama M Bambang Utomo. (Ihsan/ter)