Tatang Pahat

Oleh: Tatang Pahat

Hari Jadi Kota Tasikmalaya jatuh di bulan Oktober. Setiap bulan itu, pemkot rutin mengadakan acara seremonial. Contohnya Tasik Oktober Festival atau lebih populer disebut TOF. TOF tahun ini, sebagaimana disampaikan Sekda Ivan Dicksan di salah satu media, mengambil tema: Tasik Resik, Bersih, Hijau dan Nyaman dengan kord dasar lingkungan. Jika ditelaah dengan seksama, sesungguhnya, tema ini bak jauh panggang dari api. Tidak sesuai realita situasi dan kondisi Kota Tasik hari ini.

Yang paling kasat mata, sebut saja persolan kesan pembiaran PKL. Lihat saja PKL Cihideung. Sebelah mana nyaman nya? Bersih nya? Dan Resik nya? Yang ada justru penataannya semerawut. Padahal cihideung salah satu (katakanlah) ikon Kota Tasikmalaya.

Kalau ke Kota Tasik tapi tak berkunjung ke Cihideung, rasanya kurang afdol. Begitu kira-kira.

Di samping jalan KH Zenal Musthofa yang selama ini stuck akan perbaikan suprastruktur, ditambah event tahunan TOF yang dari tahun ke tahun  terkesan dipaksakan menjadi magnet untuk sebuah destinasi pariwisata. Justru sejatinya, gelaran TOF harus punya daya magis. Selain objek wisata, TOF harus jadi ajang bergaining untuk calon invertor. Semisal dari persoalan ekonomi. Terus, di dalam budayannya juga mesti menjungjung kearipan lokal dengan segal keunikannya.

Harus diakui Kota Tasikmalya tidak mempunyai destinasi pariwisata. Kalupun ada sangatlah tidak layak di sebut destinasi pariwisata, Situ Gede Misalnya dan masih banyak lagi.  

Keniscayaan peran pemerintah dalam hal ini wali kota harus menjadi menjadi mesin penggerak. Sebab hakekatnya pemerintah merupakan perpanjangan tangan atau informan tentang perkemban Kota-nya. Sejatinya pemerintah (wali kota) menjadi bapak angkat untuk kelompok-kelompok budaya (seni) yang berkembang di masyarakatnya.

Sejalan dengan keterangan di atas, maka mendapat kesimpulan sementara, bahwa macetnya nilai komunikasi terletak pada persoalan keterbukaan. Sementara munculnya ketidakterbukaan akibat pemahaman memaknai TOF sebatas bisnis semata. Tidak menyentuh kepada nilai. Di sini letaknya soal! 

Padahal pengertian dasar peristiwa budaya (TOF) adalah sebuah proses memanusiakan ide-ide dan gagasan ke dalam sebuah peristiwa budaya. Dalam arti luas, sebuah peristiwa budaya memahami masyarakatnya tentang wilayahnya sendiri, dan tentang memperkenalkan kekuatan budaya masyarakatnya di mata dunia.

Cara pandang inilah pada saat sekarang mulai tergadai dan tergerus dengan kepentingan pribadi dan golongan. Lebih tepatnya lagi kepentingan balas budi atau kepentingan kroni-kroni. Adalah hitungan untung-rugi secara angka-angka sehingga, kehilangan makna komunikasi seutuhnya. Mendidik, memahami, mengajak bersikap kritis, inovatif dan kreatif menjadi mati suri. Pola berpikir dan pola tindak sistematik, berpikir global tentang nilai-nilai kebudayan dan membangun sinergitas serta pendekatan untuk menyelamatkan kebudayaan terkebiri kepentingan politis dan untung rugi tadi. 

Masyarakat “mungkin” berharap banyak kepada pemerintah, dan keharusan mengajak kepada semua element yang ada di masyarakat tidak terkecuali agamawan, aktivis mahasiswa,  politisi, broker (calo) sekalipun. Mari bergandeng tangan membangun perisriwa budaya, karena terbukti majunya suatu bangsa atau wilayah bisa di lihat dari perkembangan budayannya. Sehingga ruang dialogis ini menggiring untuk menumbuhkan rasa saling memiliki. Maka jelas yang bertanggung jawab keberlangsungan budaya bukanlah masyarakata semata tapi “kita”. Jika ada kekeliruan akan terjadi split reverence (acuan terbelah). Hasil yang muncul akan  berakibat bergesernya budaya (tata nilai) bukan pengkristalan budaya. Semoga catatan kecil ini menjadi acuan untuk bahan renungan “kita”, dan menjadi stimulus untuk duduk bersama membicarakan tentang hakikat sebuah peristiwa budaya.