Persatuan Guru Madrasah (PGM), Forum Komunikasi Diniyah Talkmiliyah (FKDT) dan Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Tasikmalaya mengunjungi rumah korban

Jejak Tasikmalaya - Tiga organisasi guru agama yakni Persatuan Guru Madrasah (PGM), Forum Komunikasi Diniyah Talkmiliyah (FKDT) dan Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Tasikmalaya mengunjungi rumah santriwati korban tuduhan pencurian yang berujung pada dugaan penelanjangan oleh Satpam Ratu Paksi, Minggu (24/12) siang. 

Selain mengecam tindakan penelanjangan itu, kepada ibu korban, turut memberi dukungan moril.

Di rumahnya, para pengurus organisasi ini tidak bertemu langsung dengan korban, lantaran gadis berusia 16 tahun itu tengah menjalani pemulihan psikis. Mereka hanya diterima Devi Badrudin, ibu korban.

Devi pun menceritakan kronologi saat anaknya mulai dari dituduh mencuri, digeledah di tempat umum sampai digelandang ke kamar mandi lalu ditelanjangi dan ditinggal di dalam kamar mandi selama kurang lebih satu jam dalam kondisi telanjang.

"Kemarin-kemarin anak saya masih syok berat. Nangis terus. Setiap mendengar (ada yang bicara) kejadian ini, nangis. Sekarang anak saya tengah diobati oleh kakaknya yang kebetulan kakanya juga seorang psikolog," ungkap Devi.

Mendengar pemaparan itu, pengurus PGM, FKDT dan BKPRMI geram. Mereka pun mengecam perlakuan pihak Ratu Paksi kepada Aq yang notabenenya guru ngaji.

"Beliau (Aq) adalah guru ngaji yang aktif dan tercatat di kami (FKDT). Sehingga saat ada kejadian itu, ini adalah cambuk bagi kami. Dan ini harus tuntas (diproses hukum)," ujar Ustadz Iwan, Wakil Ketua FKDT Kota Tasik.

Ketua BKPRMI, Ustadz Heryanto, menyebut kalau apa yang dilakukan pihak Ratu Paksi kepada Aq, dalam konteks Islam adalah haram. Sekalipun yang melakukan penelanjangannya juga wanita.

"Yang namanya tutup aurat itu hak individu sehingga, tidak boleh ada penelanjangan. Meskipun oleh sesama perempuan dan dilakukan di tempat tertutup," kata Ust. Heryanto diwawancarai JejakJabar.com di rumah korban, Jl. Kapt. Naseh, Kel. Panglayungan, Kec. Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Sementara, Ketua DPD PGM Kota Tasikmalaya, Asep Rizal Asy'ari mengaku, hasil kesepakatan bersama antara PGM, BKPRMI dan FKDT, pihaknya akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Ia pun meminta agar pihak polres turun tangan melakukan penyelidikan.

"Kepada Ratu Paksi, kami imbau untuk segera meminta maaf kepada korban juga kepada masyarakat," tandasnya.

Aktivis muda NU ini menambahkan, bentuk keseriusan PGM, BKPRMI dan FKDT terhadap kasus ini, Selasa (26/12) pagi, mereka akan mendatangi Polresta Tasikmalaya guna beraudiensi. Sebab ada dugaan kekurangresponan Polsek Cihideung dalam menangani kasus ini saat ibu korban datang ke polsek dan berniat membuat pelaporan.

"Dalam audiensi nanti, rencananya ibu korban juga ikut," sebut Asep. (PL)