Membeng Kuswara (kanan) berharap pemerintah segera membantu pemulangan anaknya Slamet Riza Hidayat

Jejak Tasela - Akibat wabah Covid-19, seorang warga Kec. Karangnunggal, Kab. Tasikmalaya bernama Slamet Riza Hidayat yang bekerja sebagai kru kapal pesiar Costa Diadema tertahan di laut akibat penolakan dari otoritas pelabuhan Italia yang tak mengijinkan kapal tempatnya bekerja bersandar.

Menurut penuturan ayah Slamet Riza Hidayat, Membeng Kuswara warga Kp. Rancabakung, Desa Karangmekar, Kab. Tasikmalaya, anaknya saat ini masih berada di kapal pesiar Costa Diadema bersama 1045 orang kru kapal lainnya dengan 200 orang diantaranya asal Indonesia. Kapal tersebut saat ini masih terjebak perairan dekat pelabuhan Fiombino Italia akibat tak adanya ijin dari otoritas pelabuhan untuk bersandar dan menurunkan ABKnya akibat pandemi Covid-19 sejak beberapa pekan lalu.

Masih menurut Membeng, anaknya mulai berlayar berkeliling dunua bersama kapal pesiar ini sejak 18 Januari 2020 dengan membawa penumpang selama sebulan.

Namun setelah berhasil menurunkan seluruh penumpang, kapal pesiar ini pun mencari pelabuhan di sejumlah negara namun tak ada satupun otoritas pelabuhan yang memberi izin bagi kapal ini menurunkan krunya. Jadi, lanjutnya, sejak 27 Maret 2020 seluruh kru kapal termasuk anaknya tertahan di tengah laut dekat pelabuhan Fiombino Italia.

"Anak kami dan WNI lainnya telah berusaha menyampaikan kondisi mereka dan meminta bantuan melalui media sosial dan telpon KJRI di Italia namun saat ini belum ada penjemputan. Kami berharap kepada pemerintah untuk membantu memulangkan anak kami," kata membeng.

Sementara saat berkesempatan berkomunikasi melalui aplikasi video call dengan anggota Polsek Karangnunggal Aipda Usep Rusdiana dan Aipda Edi Suryana saat berkunjung ke rumah orang tuanya Senin (6/4/2020), Slamet Riza Hidayat yang akrab di sapa Bode ini menyampaikan kondisinya saat ini sehat, stok makanan/minuman untuk seluruh kru kapal juga sementara masih ada. Sementara untuk beristirahat dia bersama kru lainnya memanfaatkan ratusan kamar yang biasa digunakan penumpang kapal pesiar ini.

Masih menurut Bode, saat ini ada kebijakan yang dilakukan pengelola kapal yaitu para kru kapal yang sakit ditempatkan/karantina pada kamar-kamar yang berada dilantai 2 sementara yang sehat dilantai dasar.

"Kami memohon bantuan semua pihak untuk menyampaikan kondisi dirinya bersama kru lainnya asal Indonesia yang belum tahu sampai kapan terkatung-katung di lautan, harapan utama kami bantuan  penjemputan dari pemerintah," harap Bode. (Mz)