INO Kopi, kopi jenis Arabika hasil olahan petani Garut yang dibudidayakan di kawasan Darajat

Jejak Garut - Kopi lokal semakin digilai para pencinta kopi. Ini secara langsung mendongkrak sektor ekonomi seiring meningkatnya jiwa enterpreunership dikalangan anak muda. Mereka bersaing membuka gerai kopi baik berkonsep wah ataupun alakadarnya. 

Ramainya gerai membuat para pemasok kopi kian menggeliat menjual dan mendistribusikan. 

Diakui M Darojat pemilik INO Kopi (dari hasil Kopi Preanger kawasan Darajat, Semarang Kab. Garut), dewasa ini penyuka kopi mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya penyuka kopi, Den Ojat sapaan akrabnya, berharap meningkat pula pemahaman masyarakat tentang penggunaan produksi dalam negeri. 

Hal itu penting, apalagi Kopi Preanger (Kopi Priangan) pada masa itu tidak dipublikasi oleh Belanda karena bangsa kompeni itu menganggap Kopi Preanger adalah kopi terbaik dan bercita rasa tinggi. 

Den Ojat pun bangga, pasalnya dia bersama petani kopi lainnya masih dapat membudidayakan salah satu kopi unggulan di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl tersebut. Kawasan yang dianggap lokasi yang dapat menghasilkan kopi terbaik jenis Arabika. 

"Arabika sangat dipengaruhi oleh jenis tanah, berbeda dengan robusta yang cenderung sama hampir untuk semua jenis tanah," ujar pria asli Garut yang mempunyai gerai di Ruko Agnya Residence No. 7, Jalan Suherman, Ciateul, Tarogong Garut ini. 

Perbedaan keduanya terutama pada kadar asam/acidnya, dimana Arabika lebih tinggi tapi jika diolah dengan kematangan tertentu tetap aman dilambung seperti yang diproduksinya. 

Pelanggan Hingga Luar Jawa 

Sementara pelanggan INO Kopi dewasa ini selain di wilayah Jawa, juga ada pelanggan dari luar Jawa. Meskipun permintaan cukup meningkat tetapi INO kopi seringkali membatasinya produksi dikarenakan tetap menyesuaikan dengan kematangan kopi di pohon. 

"Selain itu kita ikut alam, karena kita mengolah dengan sistem tradisional agar menjaga keaslian produk sesuai yang digunakan oleh leluhur kita," jelasnya. (Tim)