Ratu Paksi toko alat jahit dan asesoris di Jl. Sukalaya 1, Kel. Argasari, Kec. Cihideung, Kota Tasikmalaya

Jejak Tasikmalaya - Berita tuduhan pencurian yang berujung pada dugaan penelanjangan santriwati oleh petugas keamanan toko Ratu Paksi terus memantik polemik. Di media sosial facebook, kecaman netizen tak terelakan.

"Usut," tulis akun facebook Oetjoe Anwar di kolom komentar. "Duh gelo kaleuleuwihanan," timpal akun bernama Yanuar M. Rifqi.

Tak hanya kedua orang tersebut, banyak tokoh masyarakat Tasikmalaya yang juga ikut geram. Termasuk praktisi hukum.

Pemilik akun Septyan Hadinata menulis, perlu ada tindakan yang tegas terhadap pelaku (penelanjangan.red)nya.

"Kudu diwarah, jangan sampe terulang kembali dan jangan ada korban lagi harus berani lapor," kata tokoh NU Tasikmalaya, Asep Rizal Asy'ari dengan akun facebook Arizal Asy'ari di komentar selanjutnya.

"Pasal fitnah kena juga 310 jo 311. Berarti ada upaya penyanderaan di toilet pasal 333" kata akun Effendi Dani. Malah, di kolom komentar postingan Piter Latupeirissa, Effendi Dani menyarankan agar korban lapor ke polres dengan didampingi advokat.

Kamis (21/12) sore, Aq belanja ke Ratu Paksi,  salah satu toko alat jahit dan asesoris di Jl. Sukalaya 1, Kel. Argasari, Kec. Cihideung, Kota Tasikmalaya. Usai membeli barang yang dicari, santiriwati berusia 16 tahun ini bergegas pulang. Namun saat di pintu keluar, detektor berbunyi. Petugas keamanan di toko itu pun kontan menghampiri Aq.

Oleh si petugas, Aq digeledah. Namun, barang yang dicari (curian) petugas tak diketemukan. Saat digeledah, jadi pusat perhatian pengunjung lainnya.

Tak puas sampai di situ, Aq lantas digelandang si petugas ke kamar mandi lantaran masih tak percaya kalau Aq tak mencuri. Di kamar mandi, guru ngaji ini ditelanjangi petugas. Yang menelanjangi memang petugas keamanan wanita.

"Kamu tunggu di sini, ini pakaian saya bawa dulu untuk diperiksa detektor. Biar tidak bolak-balik" ujar Devi Badrudin, ibunda Aq menirukan perkataan petugas kepada Aq, kala itu.

Setelah diperiksa, Aq ternyata tidak mencuri. Adapun yang membuat detektor bunyi lantaran Aq memakai celana yang akan bunyi jika terkena detektor lantaran di celana itu ada barcode permanen.

Sepulang dari sana, Aq tak henti-hentinya menangis. "Semalaman anak saya menangis. Terus anak saya juga curhat, mamah gimana kalau aku nanti dibully sama teman-teman di sekolah karena dituduh mencuri," lirih Devi diwawancarai di rumahnya, Jl. Kapt. Naseh, Jum'at (22/12) siang.

Devi berencana membawa persoalan ini ke ranah hukum. Apalagi, dari pertemuan yang dimediasi oleh polsek Cihideung di malam kejadian, pihak Ratu Paksi mengatakan bahwa tidak ada prosedur seperti itu (menelanjangi).

Saat hendak dimintai konfirmasinya, petugas keamanan mengatakan kalau pengelola/manajemen Ratu Paksi tengah tidak ada.

"Bu Dian (manajemen) tidak masuk. Lagi libur. Simpan saja nomor telpon bapak di sini. Nanti kalau Bu Devi sudah ada, saya telpon," ujar petugas keamanan Ratu Paksi kepada JejakJabar.com, Sabtu (23/12) siang. (PL)