Tatang Pahat

Tulisan : Tatang Pahat (Warga Cibeureum/Pemerhati Budaya) 

Ambruknya bangunan kemasyarakatan di salah daerah satu disebabkan munculnya pejabat atau penguasa tengil atau petualang-petualang jasa. Yang tentu saja perilakunya akan berdampak dan menimbulkan efek domino pada tatanan yang sudah di bangun masyarakat yang struktur kemasyarakatannya memang sudah timpang dan atau mungkin, di-timpangkan oleh kapitalis-kapitalis kebijakan. 

Intinya, ketika merealiasasikan program misalnya yang sedang hangat-hangatnya keberadaan Pasar Rakyat Awipari di Kecamatan Cibeureum, kelihatannya keberadaan pasar ini penuh dengan rekayasa. Narasi atau dialektika yang di bangun terkesan penuh dengan kebohongan karena elemen yang ada di masyarakat sekitar sama sekali tidak diajak ngobrol (sosialisasi). Padahal pembuatan pasar ini akan berdampak pada struktur masyarakat yang selama ini di bangun dengan susah payah. 

Menurut Kadis Indag, Bapak Firmansyah, pembangunan pasar merupakan program revitalisasi dari kementerian. Persoalannya sederhana, kata revitalisasi memperbaiki pasar yang sudah tidak layak, tapi Pasar Awipari membangun pasar dari nol. 

Satu kesempatan kata Bapak Firmansyah, pembangunan pasar ini salah satu anugerah untuk Cibeureum. Anugerah terjadi kalau saja program ini gayung bersambut, sebaliknya akan jadi malapetaka yang berdampak pada masyarakat, secara psikologi sosial, dan lingkungan, yang akhirnya terjadi konflik multidimensi.

Siapa Yang Bertanggung Jawab? 

Menilik keberadaan Pasar Awipari, dengan ketidakjelasan tentu saja mengerucut kepada pemerintah kota yang harus bertanggung yaitu Wali Kota melalui tangan Dinas Indag. Siapa menanam dia yang menuai, terkait dengan pembuat pasar (pemborong) sama sekali tidak salah karena pemborong sebagai pekerja di wilayah teknis. 

Sekali lagi jangan sakiti rakyat, jangan bohongi rakyat, jangan nistakan hati nurani rakyat dan jangan lagi rakyat di jadikan tameng, kasihan rakyat selama ini selalu dijadikan objek. Padahal sejatinya rakyat itu badala subjek pada tananan berbangsa, bernegara. ***