Kang Yanto Oce

Jejak Tasikmalaya - Melalui gerakan sosialnya nama Yanto Aprianto atau lebih dikenal dengan nama Kang Yanto Oce (KYO) bergema diseluruh wilayah di Kota Tasikmalaya. Gerakan sosial yang dilakukan pria berprofesi lawyer di Jakarta itu dikaitkan dengan politik di Kota Tasikmalaya. Ya, KYO digadang-gadang menjadi salah satu bakal calon dalam Pilkada Kota Tasikmalaya 2024 mendatang. 

Pengamat politik pun tidak menampik jika KYO sudah memiliki bekal untuk menjadi balon dalam kontestasi politik di Kota Tasikmalaya. Menurut pengamat politik Kota Tasikmalaya, Asep M Tamam yang juga dosen Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Singaparna, nama KYO cukup fenomenal dan bombastis melalui gerakan sosialnya. 

"Kehadiran Kang Yanto cukup fenomenal. Jadi saya membaca media sosial, facebook dan hampir setiap hari ada orang yang mengirim kabar tentang Kang Yanto, tidak terlalu bombastis, juga tidak sepi. Dan sejatinya seperti itu untuk membangun citra seseorang menjadi politisi," ujar Asep saat di wawancarai jejakjabar.com, Jumat (15/5/2020). 

Ditilai Asep, KYO cukup luwes terlebih dilihat dari postur dan wajah terlihat ramah dan dapat masuk serta diterima berbagai elemen. Sampai hari ini, KYO sudah mulai diterima di berbagai kalangan di Kota Tasikmalaya. 

"Tinggal jaga ritme, jangan terlalu bombastis, jangan juga sepi, karena 2024 masih jauh. Ya, untuk memulai resonansi sejak dini perlu dilakukan siapapun," ucapnya. 

Melalui gerakan sosial apalagi disokong penuh oleh Relawan KYO, Asep yakin sudah banyak masyarakat dan berbagai elemen mengetahui nama sosok pria kelahiran Kec. Purbaratu Kota Tasikmalaya itu. Tinggal bagaimana menggemakan lebih besar lagi di tahun 2023. 

"Jadi untuk masuk menjadi politisi kan tidak harus dari aktivis atau mereka secara organik yang dibesarkan organisasi dan politik. Politik itu sangat inklusif terbuka bagi semua kalangan, pengusaha, pengacara, artis atau siapapun bisa masuk, karena politik memiliki konsepnya menang kalah. Partai itu punya konsepnya bertahan, berkembang dan menang. Karena itu yang dibutuhkan tidak hanya mereka yang organik saja yang dibesarkan partai, tapi mereka yang memiliki akses simpul suara. Maka, siapapun yang sudah memiliki resonansi dalam hidupnya, sudah terkenal, sudah memiliki basis sosial, modal sosial maka siapapun memiliki hak untuk masuk ke dunia politik," jelas Asep.

Kemungkinan dipinang oleh partai politik, dikatakan Asep, KYO cukup berat. Namun cukup terbuka untuk partai yang belum atau tidak memiliki sosok atau figur yang bisa dimajukan dalam Pilkada Kota Tasikmalaya mendatang. Asep mengambil contoh PDI Perjuangan dan PKB. Menurutnya, kedua partai itu secara internal tidak memiliki tokoh yang dapat dicalonkan sehingga memiliki peluang untuk mengambil bakal calon dari luar. 

"Kalangan diluar politisi memang cukup berat ya, untuk masuk di partai atau dilirik oleh partai, kecuali partai itu belum atau tidak memiliki sosok atau figur yang bisa dimajukan. Mungkin di Tasik ada beberapa partai yang ketua partainya tidak mencalonkan diri, karena tahu diri atau elektabilitas dikalang publiknya kurang. Ada beberapa partai di Kota Tasikmalaya ketua partainya memang lemah dalam kaitannya penerimaan sosial di Kota Tasikmalaya kecuali beberapa partai sepertinya tidak akan mengambil dari luar. Tapi partai-partai lain mungkin saja karena konsepnya menang kalah. Bagaimana pun yang penting bisa memenangkan kontestasi politik disuatu daerah khususnya di Kota Tasik," tuturnya. 

"Saya yakin Kang Yanto bisa diterima disalah satu partai di Kota Tasikmalaya terutama partai yang memang secara internal tidak memiliki tokoh yang bisa dimajukan bakal calon kedepannya. Saya lihat seperti PDIP, PKB masih memiliki peluang untuk mengambil calonnya dari luar. Bahkan bukan hanya PKB, PDIP, yang lain juga sama tergantung apakah nanti bisa meraih simpati dan hati DPP. Dan memang dalam salah satu catatan dalam buku saya memang pilkada ini sangat tersandera SK DPP. Sehebat apapun calon terutama calon dari luar partai pada akhirnya harus bersimpuh dihadapan SK DPP," imbuh Asep. 

Asep berharap, KYO dapat belajar banyak agar dapat diterima DPP, jangan hanya mengandalkan sekedar popularitas, modal sosial yang sudah dimiliki. 

"DPP itu faktor yang dilihatnya bukan sekedar itu, tapi juga, ya sangat gaib dalam pemahaman saya kriteria apa yang diinginkan DPP dalam hal ini. Tapi bangun saja dulu citranya, bangun saja dulu resonansi, sehingga DPP bisa kesemsem, bisa tertarik sehingga bisa menjatuhkan pilihan tidak dari organ partai tapi dari kuar partai. Sangat memungkinkan," pungkasnya. (Dwi