Jeni Jayusman dan Yanto Oce

Jejak Tasikmalaya - Yanto Oce dan Jeni Jayusman. Dua orang ini belakangan menjadi figur. Mencuri perhatian. Yanto dengan misi kemanusiaannya, sedangkan Jeni dengan lingkup politiknya. Nama Yanto kerap hadir dalam kegiatan sosial. Kalau Jeni acap tampil sebagai politisi kritis membela kepentingan masyarakat.

Yanto adalah pengusaha yang sukses berkiprah di Ibu Kota. Adapun Jeni politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN). Di DPD PAN Kota Tasik, Jeni mendudiki posisi bendahara. Karir politiknya tergolong mentereng. Dua kali (periode) menjadi anggota DPRD dan masuk di unsur pimpinan (wakil ketua DPRD).

Terus santernya nama Yanto dan Jeni tak sedikit ada yang mengait-ngaitkan dengan agenda politik lima tahunan di Kota Tasikmalaya. Ya, 2022, Kota Tasik direncanakan akan menggelar pemilihan pasangan wali kota dan wakil wali kota. Dengan kapabilitas yang dimiliki, kedua lelaki seumuran itu disebut-sebut layak ikut kontestasi pilkada.

Dalam satu kesempatan, redaksi jejakjabar menghubungi keduanya. Bertanya tentang ragam kemungkinan sampai penilaian masing-masing. Bagaimana Yanto di mata Jeni? Pun sebaliknya seperti apa Jeni di mata Yanto Oce. Ikhwal penilaian, keduanya saling sanjung.

"Sebelumnya, saya sering mendengar nama kang Jeni. Hingga suatu ketika kami dipertemukan dalam satu kesempatan. Dia orangnya enak diajak diskusi, ramah, cerdas dan energik. Secara pribadi saya salut dengan beliau," aku Yanto Oce menilai sosok Jeni Jayusman.

Hal senada dilontarkan Jeni. Kendati baru ketemu sekali di tempat ngopi, Jeni menangkap aura positif di diri Yanto Oce. Humble dan memiliki kepedulian  sosial tinggi. Terbukti, kendati saat ini Yanto Oce berkarir di Jakarta, tapi kepeduliannya terhadap Kota Tasik begitu luar biasa. Misalnya di tengah pandemi. Banyak kegiatan sosial yang digagas Yanto Oce. Sekalipun orangnya tidak hadir langsung dalam pelaksanaannya. Menurut Jeni, hanya segelintir orang yang memiliki keluasan ekonomi, ajeg menjalankan misi kemanusiaan.

Pilkada Kota Tasik sekitar dua tahunan lagi. Apa Yanto Oce cukup memiliki kapabilitas jika ikut kontestasi? Lantas Jeni menjawab, "Begini, orang daerah bisa berkiprah dan memertahankan kipranya di Ibu Kota, itu sudah nilai plus. Artinya dia memiliki kapasitas. Nah, dengan poin itu, kapabilitas mestinya ada. Terus yang kedua adalah dari sisi usia. Dengan usianya di kisaran 47 tahun, tentunya masih tajam berintuisi dan berinovasi. Belum tumpul sehingga akan gaspol ketika membahas dan menjalankan program,"

"Hahaha...  Ulah ditanya kitu ka abina jadi isin atuh. Kang Yanto mah kumaha (luar biasa) ai abi mah saha atuh Hahaha.....Tapi begini lah, pasca-pertarungan kemarin (maju di pileg provinsi) saya masih punya kaca di rumah. Banyak hal yang harus dievaluasi dalam diri saya. Nanti, bagaimana nanti saja," sahut Jeni ditannya bagaimana bila di 2022 Yanto dan Jeni ditakdirkan ikut kontestasi pilkada dan berpasangan.

Baik Yanto Oce maupun Jeni Jayusman, keduanya mengaku kalau bertemunya mereka kala itu banyak membicarakan tentang Kota Tasik. Mulai dari seperti apa Kota Tasik kemarin, bagaimana Kota Tasik hari ini dan harus seperti apa Kota Tasik ke depan. Bahasan tersebut semata-mata bentuk kepedulian/tanggung keduanya terhadap Kota Tasik sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Kota Tasik. (Piter/Dwi)