PKL Cihideung

Jejak Tasikmalaya - Keberadaan deretan gerobak pedagang kaki lima atau PKL di sepanjang Jl. Cihideung Gede, sudah bertengger sekitar lima tahunan. Selama itu pula, kondisinya seolah dibiarkan kumuh, semerawut, jadi pemicu kemcetan lantaran menghabiskan hampir separuh badan jalan. Dengan demikian, PKL Cihideung sudah banyak melenceng dari Peraturan Walikota Nomor 60 Tahun 2015 Tentang Penataan PKL Ruas Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya.

"Kendati ada Perwalkotnya, tapi sampai saat ini nyaris tak pernah tersentuh penertiban dan penataan oleh pemkot sehingga, investasi gerobak yang menghabiskan dana miliaran rupiah menjadi mubadzir. Aplagi banyak gerobak telah banyak beralih fungsi, dari tempat berjualan menjadi hanya sekedar penghalang batas area jualan," kata pengamat sekaligus Konsultan Perencana Tata Kota, Ir. Nanang Nurjamil MM.

Rencana penataan PKL Cihideung yang sejak selama digaungkan pemkot, menurut Nanang sebatas bualan belaka. Buktinya tak pernah dilaksanakan. Alih-alih mau ditata yang nampak justru malah pembiaran, seolah PKL Cihideung menjadi “haram” untuk ditata.

"Saya sudah berulang kali menyampaikan ide/gagasan konsep penataan PKL Cihideung kepada DPRD dan Pemkot Tasikmalaya, tapi sayangnya hanya sekedar diapresiasi tanpa realisasi. Saya tidak tahu maunya dan kendalanya pemerintah kota dalam menata PKL Cihideung itu apa sebenarnya. Kawasan Cihideung itu adalah bagian dari etalase atau Kota Tasikmalaya, masa iya pemkot tidak malu wajah kotanya kumuh seperti itu?" ujarnya.

Akibat adanya kesan pembiaran terhadap keberadaan PKL Cihideung, akhirnya menimbulkan rasa ketidakadilan serta perlakuan diskriminatif pemkot kepada para PKL dikawasan lain yang selama ini sering menjadi bulan-bulanan Satpol PP.

Ari PKL Cihideung diantep, ari urang kunaon dibuburak wae teu meunang jualan?" Heran Nanang Nurjamil, menirukan kekesalan para PKL di luar Cihideung yang kerap kali mengadu kepadanya. (Piter)