Kegiatan mengaji santri Ma'had Bilal Robah

Jejak Tasikmalaya - Mulia. Demikian kata yang tepat untuk menggambarkan akhlak pengasuh Pondok Pesantren Ma’had Bilal Bin Robah, Cisayong, Kab. Tasikmalaya. Pengelola lembaga pendidikan ini bukan saja menggratiskan biaya pendidikan bagi anak yatim dan kaum dhuafa, tapi juga menjamin kebutuhan sandang, pangan dan papannya.

Ma’had Bilal Bin Robah adalah pondok pesantren yang konse pada pendidikan anak-anak yatim dan dhu’afa. Salah satu pengasuh pondok, Aas Dani Hasbuna, menceritakan, didirikannya Ma’had Bilal Bin Robah berawal dari keprihatinan melihat banyak anak yatim dan dhuafa yang tak bisa menempuh pendidikan dengan layak karena terkendala biaya.

"Maka saat itu pengasuh pondok tergerak ingin membantu mereka, memberikan pendidikan secara gratis. Tepat 20 September 2019, kami membuka pendaftaran santri yatim dan dhu’afa dengan kuota untuk 20 anak. Untuk awal-awal, kegiatan belajar mengajar dilakukan di salah satu rumah warga, Jl. KH Tubagus Abdullah, Sukajaya, Kota Tasikmalaya. Setelah berjalan tujuh bulan, qodarullah rumah tersebut akan dijual oleh pemiliknya. Dari situ, kami berpetualang pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya dengan membawa  santri yang saat itu sudah mencapai 40 orang sampai akhirnya kini bertempat di Cisayong," kata Aas.

Visi Pondok Pesantren Ma’had Bilal Bin Robah, sambung Aas, adalah mewujudkan lembaga pendidikan pondok pesantren gratis sehingga benar-benar bisa jadi solusi untuk umat dalam pendidikan ilmu syar’i bagi anak-anak kaum muslimin secara merata dengan misi menyelenggarakan Lembaga Pendidikan Islam yang mampu membentuk pribadi alim, muttaqi yang beraqidah salimah, beribadah shahihah, berakhlak karimah, menguasai bahasa arab, mampu membaca kitab-kitab para ulama dalam bahasa Arab sehingga memiliki kemampuan untuk berperan serta dalam Iqomatuddien sesuai dengan manhaj salafus sholeh.

"Kurikilum yang digunakan di Ma’had Bilal Bin Robah menggunakan kurikulum pondok pesantren tradisional yaitu dengan mengkaji berbagai kitab-kitab para ulama terdahulu dengan cara talaqi. Program pendidikannya yakni menyelenggarakan pendidikan ilmu syar’i untuk anak-anak sampai dewasa. Pendidikan ditempuh minimal tiga tahun. Tahun pertama mempelajari kitab-kitab dasar yaitu: Al-Utshul Atsalatsah, Qowa’idul Arba’, Fathul Qorib, Tuhfatul Athfal, Al-Jazariyah, Al-Jurrmiyah, Amtsilati Tasrifiyah dan Arba’un Nawawi. Tahun kedua: Kitab Aqidah Washithiyah, Imrithy, Kailani, Fiqhul Muyasar, Bulughul Maram. Tahun ketiga: Qoulul Mufid Fii Syarhi Kitabut Tauhid, I’anathut tholibin, Alfiyah Ibnu Malik, Tafsir Ibnu Katsir.

Apabila program pendidikan selama 3 tahun telah selesai dengan nilai yang baik, maka setiap santri bisa melanjutakan untuk menuntut ilmu kepara ulama Ahlussunnah di Negeri Yaman dengan program beasiswa," urai Aas.

Setiap santri yang mondok, masih kata Aas, ditargetka mampu membaca Al Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid dan tahsin, mampu menghafal Al Qu’an 15 juz dalam 3 tahun, mampu membaca kitab dalam bahasa Arab serta mampu berkomunikasi dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

"Bila ada calon santri yang ingin belajar di pondok, silahkan datang. Begitu juga apabila ada agnia yang bermaksud membantu menunjang kegiatan pondok, apalagi berminat menjadi donatur tetap, bisa langsung datang ke pondok. Sebelumnya saya ucapkan Jazakallahu Khairan Katsiran," imbuhnya. (Piter)